Homeschooling
HOME
SCHOOLING
Istilah Homeschooling
sendiri berasal dari bahasa Inggris berarti sekolah rumah. Homeschooling
berakar dan bertumbuh di Amerika Serikat. Homeschooling dikenal juga dengan
sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri.
Pengertian umum homeschooling adalah model
pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas
pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya.
Memilih untuk bertanggungjawab berarti orangtua terlibat langsung menentukan
proses penyelenggaraan pendidikan, penentuan arah dan tujuan pendidikan,
nilai-nilai yang hendak dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan, kurikulum
dan materi, serta metode dan praktek belajar.
Dengan pencetus utama homeschooling
di Indonesia yaitu Kak Seto (Sekolah Mutiara Indonesia), kini sudah banyak
berdiri homeschooling lain seperti Ehugheschooling (ehs), Prima
Mandiri Homeschooling ( homeschooling di Jakarta Selatan), Morning Star
Academy, dan banyak lagi. Semuanya menawarkan harga yang sangat beragam
disertai keunggulan yang ditawarkan oleh masing-masing program. Semua itu
menjadikan homeschooling sebagai alternatif pendidikan yang dimasa
datang menjadi pilihan siswa-siswi di Indonesia.
Perkembangan
homeschooling di Indonesia belum diketahui secara persis karena belum ada
penelitian khusus tentang akar perkembangannya. Istilah homeschooling merupakan
khazanah relatif baru di Indonesia. Namun, jika dilihat dari konsep
homeschooling sebagai pembelajaran yang tidak berlangsung di sekolah formal
alias otodidak, maka sekolah rumah sudah tidak merupakan hal baru. Banyak
tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang sudah mempraktikan homeschooling, seperti
KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka
Faktor-Faktor
Pemicu dan Pendukung Homechooling
a.
Kegagalan sekolah formal
Baik di Amerika Serikat
maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu
pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia
maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini
dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.
b.
Teori Inteligensi ganda
Salah satu teori
pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori
Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences). Jenis-jenis inteligensi tersebut
adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi
ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi
interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan
Inteligensi eksistensial.
c.
Sosok homeschooling terkenal
Banyaknya tokoh-tokoh
penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal
juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa
Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya.
d.
Tersedianya aneka sarana
Dewasa ini,
perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia
nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum,
lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas
sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran,
restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi
(internet dan audivisual).
Kelebihan homeschooling:
- Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
- Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.
- Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
- Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
- Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).
- Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).
- Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua.
Kekurangan
homeschooling:
- Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua.
- Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
- Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.
- Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

Komentar
Posting Komentar