Perdagangan Luar Negeri
Teori
perdagangan internasional
I. TEORI
KLASIK
·
Absolute Advantage dari Adam Smith
Teori Absolute Advantage lebih
mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan moneter sehingga sering dikenal
dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam
arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti
misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang
dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak tenaga kerja yang
digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value )
Teori absolute advantage Adam
Smith yang sederhana menggunakan teori nilai tenaga kerja, Teori nilai kerja
ini bersifat sangat sederhana sebab menggunakan anggapan bahwa tenaga kerja itu
sifatnya homogeny serta merupakan satu-satunya factor produksi. Dalam
kenyataannya tenaga kerja itu tidak homogen, factor produksi tidak hanya satu
dan mobilitas tenaga kerja tidak bebas. dapat dijelaskan dengan contoh sebagai
berikut: Misalnya hanya ada 2 negara, Amerika dan Inggris memiliki faktor
produksi tenaga kerja yang homogen menghasilkan dua barang yakni gandum dan
pakaian. Untuk menghasilkan 1 unit gandum dan pakaian Amerika membutuhkan 8
unit tenaga kerja dan 4 unit tenaga kerja. Di Inggris setiap unit gandum dan
pakaian masing-masing membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 unit dan 2 unit.
Banyaknya Tenaga Kerja yang
Diperlukan untuk Menghasilkan per Unit
Produksi
|
Amerika
|
Inggris
|
Gandum
|
8
|
10
|
Pakaian
|
4
|
2
|
Dari tabel diatas nampak bahwa
Amerika lebih efisien dalam memproduksi gandum sedang Inggris dalam produksi
pakaian. 1 unit gandum diperlukan 10 unit tenaga kerja di Inggris sedang di
Amerika hanya 8 unit. (10 > 8 ). 1 unit pakaian di Amerika memerlukan 4 unit
tenaga kerja sedang di Inggris hanya 2 unit. Keadaan demikian ini dapat
dikatakan bahwa Amerika memiliki absolute advantage pada produksi gandum dan
Inggris memiliki absolute advantage pada produksi pakaian. Dikatakan absolute
advantage karena masing-masing negara dapat menghasilkan satu macam barang
dengan biaya yang secara absolut lebih rendah dari negara lain.
Kelebihan dari teori Absolute
advantage yaitu terjadinya perdagangan bebas antara dua negara yang saling
memiliki keunggulan absolut yang berbeda, dimana terjadi interaksi ekspor dan
impor hal ini meningkatkan kemakmuran negara. Kelemahannya yaitu apabila hanya
satu negara yang memiliki keunggulan absolut maka perdagangan internasional
tidak akan terjadi karena tidak ada keuntungan.
·
Comparative Advantage : JS Mill
Teori ini menyatakan bahwa suatu
Negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki
comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative
diadvantage(suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor
barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar )
Teori ini menyatakan bahwa nilai
suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk
memproduksi barang tersebut. Contoh :
Produksi 10 orang dalam 1 minggu
Produksi
|
Amerika
|
Inggris
|
Gandum
|
6 bakul
|
2 bakul
|
Pakaian
|
10 yard
|
6 yard
|
Menurut teori ini perdagangan
antara Amerika dengan Inggris tidak akan timbul karena absolute advantage untuk
produksi gandum dan pakaian ada pada Amerika semua. Tetapi yang penting bukan
absolute advantagenya tetapi comparative Advantagenya.
Besarnya comparative advantage
untuk Amerika , dalam produksi gandum 6 bakul disbanding 2 bakul dari Inggris
atau =3 : 1. Dalam produksi pakaian 10 yard dibanding 6 yard dari Inggris atau
5/3 : 1. Disini Amerika memiliki comparative advantage pada produksi gandum
yakni 3 : 1 lebih besar dari 5/3 : 1.
Untuk Inggris, dalam produksi
gandum 2 bakul disbanding 6 bakul dari Amerika atau 1/3 : 1. Dalam
produksi pakaian 6 yard dari Amerika Serikat atau = 3/5: 1. Comparative
advantage ada pada produksi pakaian yakni 3/5 : 1 lebih besar dari 1/3 : 1.
Oleh karena itu perdagangan akan timbul antara Amerika dengan Inggris, dengan
spesialisasi gandum untuk Amerika dan menukarkan sebagian gandumnya dengan
pakaian dari Inggris. Dasar nilai pertukaran (term of Trade ) ditentukan dengan
batas – batas nilai tujar masing – masing barang didalam negeri.
Kelebihan untuk teori comparative
advantage ini adalah dapat menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan
karena pertukaran dimana kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori
absolute advantage.
II. COMPARATIVE COST DARI DAVID
RICARDO
1.
Cost Comparative Advantage ( Labor efficiency )
Menurut teori cost comparative
advantage (labor efficiency), suatu Negara akan memperoleh manfaat dari
perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor
barang dimana Negara tersebut dapat berproduksi relative lebih efisien serta
mengimpor barang di mana negara tersebut berproduksi relative kurang/tidak
efisien. Berdasarkan contoh hipotesis dibawah ini maka dapat dikatakan bahwa
teori comparative advantage dari David Ricardo adalah cost comparative advantage.
Data Hipotesis Cost Comparative
Negara Produksi
|
1 Kg gula
|
1 m Kain
|
Indonesia
|
3 hari kerja
|
4 hari kerja
|
China
|
6 hari kerja
|
5 hari kerja
|
Indonesia memiliki keunggulan
absolute dibanding Cina untuk kedua produk diatas, maka tetap dapat terjadi perdagangan
internasional yang menguntungkan kedua Negara melalui spesialisasi jika
Negara-negara tersebut memiliki cost comparative advantage atau labor
efficiency.
Berdasarkan perbandingan Cost
Comparative advantage efficiency, dapat dilihat bahwa tenaga kerja Indonesia
lebih effisien dibandingkan tenaga kerja Cina dalam produksi 1 Kg gula ( atau
hari kerja ) daripada produksi 1 meter kain ( hari bkerja) hal ini akan
mendorong Indonesia melakukan spesialisasi produksi dan ekspor gula.
Sebaliknya tenaga kerja Cina
ternyata lebih effisien dibandingkan tenaga kerja Indonesia dalam produksi 1 m
kain ( hari kerja ) daripada produksi 1 Kg gula ( hari kerja) hal ini mendorong
cina melakukan spesialisasi produksi dan ekspor kain.
2. Production Comperative
Advantage ( Labor produktifiti)
Suatu Negara akan memperoleh
manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan
mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih
produktif serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relatif
kurang / tidak produktif
Walaupun Indonesia memiliki
keunggulan absolut dibandingkan cina untuk kedua produk, sebetulnya perdagangan
internasional akan tetap dapat terjadi dan menguntungkan keduanya melalui
spesialisasi di masing-masing negara yang memiliki labor productivity.
kelemahan teori klasik Comparative Advantage tidak dapat menjelaskan mengapa
terdapat perbedaan fungsi produksi antara 2 negara. Sedangkan kelebihannya
adalah perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat terjadi walaupun
hanya 1 negara yang memiliki keunggulan absolut asalkan masing-masing dari
negara tersebut memiliki perbedaan dalam cost Comparative Advantage atau
production Comparative Advantage.
Teori ini mencoba melihat
kuntungan atau kerugian dalam perbandingan relatif. Teori ini berlandaskan pada
asumsi:
1.
Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah
tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai
barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk
memproduksinya.
2.
Perdagangna internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.
3.
Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal
pemasaran
4.
Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak
berpengaruh.
Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi.
Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi.
Paham klasik dapat menerangkan
comparative advantage yang diperoleh dari perdagangan luar negeri timbul
sebagai akibat dari perbedaan harga relatif ataupun tenaga kerja dari
barang-barang tersebut yang diperdagangkan.
III. TEORI MODERN
Teori Heckscher-Ohlin (H-O)
menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik, negara-negara cenderung
untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif
melimpah secara intensif
Menurut Heckscher-Ohlin, suatu
negara akan melakukan perdagangan dengan negara lain disebabkan negara tersebut
memiliki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan
faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah:
1. Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi didalam suatu negara.
2. Faktor intensity, yaitu teksnologi yang digunakan didalam proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity.
1. Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi didalam suatu negara.
2. Faktor intensity, yaitu teksnologi yang digunakan didalam proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity.
A. The Proportional Factors
Theory
Teori modern Heckescher-ohlin
atau teori H-O menggunakan dua kurva pertama adalah kurva isocost yaitu kurva
yang menggabarkan total biaya produksi yang sama. Dan kurva isoquant yaitu
kurva yang menggabarkan total kuantitas produk yang sama. Menurut teori ekonomi
mikro kurva isocost akan bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik
optimal. Jadi dengan biaya tertentu akan diperoleh produk yang maksimal atau
dengan biaya minimal akan diperoleh sejumlah produk tertentu.
Analisis teori H-O :
a.
Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau
proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing Negara
b.
Comparative Advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing negara
akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang dimilkinya.
c.
Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan
mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang
relatif banyak dan murah untuk memproduksinya
d.
Sebaliknya masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu karena
negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk
memproduksinya
Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi.
Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi.
B. Paradoks Leontief
Wassily Leontief seorang pelopor
utama dalam analisis input-output matriks, melalui study empiris yang
dilakukannya pada tahun 1953 menemukan fakta, fakta itu mengenai struktur
perdagangan luar negri (ekspor dan impor). Amerika serikat tahun 1947 yang
bertentangan dengan teori H-O sehingga disebut sebagai paradoks leontief
Berdasarkan penelitian lebiih
lanjut yang dilakukan ahli ekonomi perdagangan ternyata paradox liontief
tersebut dapat terjadi karena empat sebab utama yaitu :
a.
Intensitas faktor produksi yang berkebalikan
b.
Tariff and Non tarif barrier
c.
Pebedaan dalam skill dan human capital
d.
Perbedaan dalam faktor sumber daya alam
Kelebihan dari teori ini adalah
jika suatu negara memiliki banyak tenaga kerja terdidik maka ekspornya akan
lebih banyak. Sebaliknya jika suatu negara kurang memiliki tenaga kerja
terdidik maka ekspornya akan lebih sedikit.
C. Teori Opportunity Cost
Opportunity Cost digambarkan
sebagai production possibility curve ( PPC ) yang menunjukkan kemungkinan
kombinasi output yang dihasilkan suatu Negara dengan sejumlah faktor produksi
secara full employment. Dalam hal ini bentuk PPC akan tergantung pada asusmsi
tentang Opportunity Cost yang digunakan yaitu PPC Constant cost dan PPC
increasing cost
D. Offer Curve/Reciprocal Demand
(OC/RD)
Teori Offer Curve ini diperkenalkan
oleh dua ekonom inggris yaitu Marshall dan Edgeworth yang menggambarkan sebagai
kurva yang menunjukkan kesediaan suatu Negara untuk menawarkan/menukarkan suatu
barang dengan barang lainnya pada berbagai kemungkinan harga.
Kelebihan dari offer curve yaitu
masing-masing Negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional
yaitu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Permintaan dan penawaran pada faktor produksi akan menentukan harga factor produksi tersebut dan dengan pengaruh teknologi akan menentukan harga suatu produk. Pada akhirnya semua itu akan bermuara kepada penentuan comparative advantage dan pola perdagangan (trade pattern) suatu negara. Kualitas sumber daya manusia dan teknologi adalah dua faktor yang senantiasa diperlukan untuk dapat bersaing di pasar internasional. Teori perdagangan yang baik untuk diterapkan adalah teori modern yaitu teori Offer Curve.
Permintaan dan penawaran pada faktor produksi akan menentukan harga factor produksi tersebut dan dengan pengaruh teknologi akan menentukan harga suatu produk. Pada akhirnya semua itu akan bermuara kepada penentuan comparative advantage dan pola perdagangan (trade pattern) suatu negara. Kualitas sumber daya manusia dan teknologi adalah dua faktor yang senantiasa diperlukan untuk dapat bersaing di pasar internasional. Teori perdagangan yang baik untuk diterapkan adalah teori modern yaitu teori Offer Curve.
Perkembangan Ekspor Indonesia
Berikut data perkembangan
Ekspor Indonesia dari Tahun 2008 s.d 2012
(Dalam
US$)
Sektor
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
Peran
Th. 2012 (%) |
I. MIGAS
|
22.088.567.876
|
29.126.274.355
|
19.018.296.911
|
28.039.599.534
|
41.477.035.636
|
20,38%
|
1. Minyak Mentah
|
9.226.036.450
|
12.418.743.646
|
7.820.256.578
|
10.402.867.668
|
13.828.677.857
|
6,80%
|
2. Hasil Minyak
|
2.878.751.078
|
3.547.001.209
|
2.262.327.715
|
3.967.277.194
|
4.776.854.837
|
2,35%
|
3. Gas
|
9.983.780.348
|
13.160.529.500
|
8.935.712.618
|
13.669.454.672
|
22.871.502.942
|
11,24%
|
II. NON MIGAS
|
92.012.322.875
|
107.894.150.047
|
97.491.729.170
|
129.739.503.936
|
162.019.584.424
|
79,62%
|
1. Pertanian
|
3.657.784.654
|
4.584.576.851
|
4.352.754.318
|
5.001.899.002
|
5.165.793.669
|
2,54%
|
2. Industri
|
76.460.827.880
|
88.393.495.928
|
73.435.840.877
|
98.015.076.416
|
122.188.727.150
|
60,04%
|
3. Tambang
|
11.884.904.619
|
14.906.165.178
|
19.692.338.644
|
26.712.581.107
|
34.652.027.382
|
17,03%
|
4. Lainnya
|
8.805.722
|
9.912.090
|
10.795.331
|
9.947.411
|
13.036.223
|
0,01%
|
TOTAL
|
114.100.890.751
|
137.020.424.402
|
116.510.026.081
|
157.779.103.470
|
203.496.620.060
|
100,00%
|
| Hasil Industri | 2010 | 2011 | 2012 | 2013 | 2014 | 2014 (%) |
| Kelapa Sawit | 17.253.751.946 | 23.179.189.217 | 23.396.998.187 | 20.660.402.210 | 23.711.550.465 | 20,21% |
| Besi Baja, Mesin Mesin dan Otomotif | 10.840.032.116 | 13.191.710.376 | 15.029.612.806 | 14.684.401.500 | 15.813.518.294 | 13,48% |
| Tekstil | 11.205.515.350 | 13.234.016.875 | 12.446.506.596 | 12.661.681.508 | 12.720.312.060 | 10,84% |
| Elektronika | 9.254.562.524 | 9.536.135.712 | 9.444.056.939 | 8.520.124.647 | 8.066.889.542 | 6,88% |
| Pengolahan Karet | 9.522.622.737 | 14.540.361.167 | 10.818.624.881 | 9.724.133.106 | 7.497.549.404 | 6,39% |
| Kimia Dasar | 4.577.664.111 | 6.119.906.261 | 4.870.521.468 | 5.083.494.825 | 5.703.382.618 | 4,86% |
| Makanan dan Minuman | 3.219.558.339 | 4.505.240.017 | 4.652.902.475 | 5.379.821.652 | 5.554.396.593 | 4,73% |
| Pengolahan Kayu | 4.280.345.672 | 4.474.988.094 | 4.539.877.317 | 4.727.650.015 | 5.202.156.290 | 4,43% |
| Alat Alat Listrik | 2.657.943.780 | 2.995.110.990 | 3.084.974.047 | 3.188.670.057 | 3.060.765.055 | 2,61% |
| Pengolahan Tembaga dan Timah | 6.505.973.111 | 7.500.962.497 | 5.049.455.277 | 4.843.484.653 | 4.886.370.585 | 4,16% |
| Pulp Dan Kertas | 5.708.164.342 | 5.769.378.283 | 5.517.965.818 | 5.643.997.372 | 5.498.591.201 | 4,69% |
| Barang Barang kimia | 925.326.641 | 1.978.291.164 | 2.035.001.499 | 2.099.699.105 | 1.852.937.671 | 1,58% |
| Emas, Perak dan Perhiasan | 1.417.404.497 | 2.520.059.405 | 2.185.993.514 | 2.031.240.428 | 3.671.788.964 | 3,13% |
| Alat olahraga, Musik, Pendidikan dan Mainan | 894.894.542 | 1.000.753.315 | 1.098.401.215 | 1.184.450.430 | 1.217.668.238 | 1,04% |
| Semen dan Produk dari Semen | 112.195.859 | 123.001.904 | 53.895.286 | 107.422.212 | 87.144.398 | 0,07% |
| Pengolahan Rotan Olahan | 195.057.949 | 208.012.240 | 286.722.512 | 264.106.856 | 214.331.225 | 0,18% |
| Minyak Atsiri | 198.982.243 | 242.295.236 | 222.972.203 | 212.085.781 | 260.894.363 | 0,22% |
| Pengolahan Tetes | 253.512.494 | 296.184.669 | 320.929.557 | 367.794.319 | 397.390.652 | 0,34% |
| Kamera dan alat Optik | 183.371.019 | 224.681.194 | 220.978.686 | 218.610.510 | 239.018.176 | 0,20% |
| Komoditi lainnya | 557.864.036 | 546.572.007 | 466.187.387 | 457.399.964 | 431.191.137 | 0,37% |
| Pengolahan hasil hutan | 71.015.951 | 53.965.165 | 43.139.745 | 42.989.549 | 45.433.810 | 0,04% |
| Barang kerajinan lainnya | 295.366.789 | 361.101.284 | 379.916.623 | 400.528.010 | 418.115.320 | 0,36% |
| Kosmetika | 269.790.385 | 349.090.073 | 361.488.129 | 392.019.158 | 398.927.158 | 0,34% |
| Produk Farmasi | 360.442.018 | 438.140.751 | 485.594.695 | 492.247.879 | 570.617.738 | 0,49% |
| Plastik | 1.216.938.046 | 1.429.411.911 | 1.457.981.861 | 1.465.245.943 | 1.511.010.803 | 1,29% |
| Rokok | 598.860.694 | 648.437.318 | 732.537.409 | 834.266.121 | 942.271.844 | 0,80% |
| Keramik, Marmer dan Kaca | 901.381.338 | 952.623.900 | 885.864.150 | 855.714.236 | 868.068.116 | 0,74% |
| Pupuk | 736.106.806 | 920.720.995 | 1.027.965.781 | 1.038.610.872 | 849.438.079 | 0,72% |
| Pengolahan Aluminium | 790.252.173 | 893.452.396 | 820.569.062 | 777.229.482 | 774.890.901 | 0,66% |
| Makanan Ternak | 344.544.180 | 504.033.782 | 625.819.540 | 737.356.771 | 772.923.937 | 0,66% |
Tingkat Daya saing
Daya saing
merupakan kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang memenuhi pengujian
internasional, dan dalam saat bersamaan juga dapat memelihara tingkat
pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, atau kemampuan daerah menghasilkan
tingkat pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dengan tetap terbuka
terhadap persaingan eksternal.
Daya saing
juga dapat juga diartikan sebagai kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan
persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan
riil-nya.
Ada beberapa
pengertian daya saing yang mencakup wilayah, sebagai berikut :
1. Daya saing tempat (lokalitas dan daerah) merupakan kemampuan ekonomi dan masyarakat lokal (setempat) untuk memberikan peningkatan standar hidup bagi warga/penduduknya .
2. Daya saing daerah berkaitan dengan kemampuan menarik investasi asing (eksternal) dan menentukan peran produktifnya .
3. Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional .
1. Daya saing tempat (lokalitas dan daerah) merupakan kemampuan ekonomi dan masyarakat lokal (setempat) untuk memberikan peningkatan standar hidup bagi warga/penduduknya .
2. Daya saing daerah berkaitan dengan kemampuan menarik investasi asing (eksternal) dan menentukan peran produktifnya .
3. Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional .
Ada beberapa
yang sangat berpengaruh terhadap daya saing, yaitu :
1. Iklim yang kondusif
Pada hal ini peningkatan daya saing bergantung kepada iklim. Contoh saja suatu produk teh, jika saja iklim tidak mendukung maka daya saing di pasar akan menurun karena tanaman teh belom dapat diproduksi. Ini dikarenakan iklim yang tidak mendukung bisa kemarau yang berkepanjangan atau ada sebab lain.
2. Keunggulan komparatif
Teori keunggulan komparatif merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah. Akan tetapi dalam kerangka perdagangan kopi dunia, keunggulan kompetitif Indonesia akan lebih besar dibanding Malaysia untuk bersaing di pasar internasional. Sebaliknya dalam perdagangan Timah, Malaysia memiliki keunggulan kompetitif lebih baik dibanding Indonesia.
3. Keunggulan kompetitif
Seperti contoh diatas, keunggulan kompetitif Indonesia akan lebih besar dibanding Malaysia untuk bersaing di pasar internasional. Sebaliknya dalam perdagangan Timah, Malaysia memiliki keunggulan kompetitif lebih baik dibanding Indonesia.
1. Iklim yang kondusif
Pada hal ini peningkatan daya saing bergantung kepada iklim. Contoh saja suatu produk teh, jika saja iklim tidak mendukung maka daya saing di pasar akan menurun karena tanaman teh belom dapat diproduksi. Ini dikarenakan iklim yang tidak mendukung bisa kemarau yang berkepanjangan atau ada sebab lain.
2. Keunggulan komparatif
Teori keunggulan komparatif merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah. Akan tetapi dalam kerangka perdagangan kopi dunia, keunggulan kompetitif Indonesia akan lebih besar dibanding Malaysia untuk bersaing di pasar internasional. Sebaliknya dalam perdagangan Timah, Malaysia memiliki keunggulan kompetitif lebih baik dibanding Indonesia.
3. Keunggulan kompetitif
Seperti contoh diatas, keunggulan kompetitif Indonesia akan lebih besar dibanding Malaysia untuk bersaing di pasar internasional. Sebaliknya dalam perdagangan Timah, Malaysia memiliki keunggulan kompetitif lebih baik dibanding Indonesia.
REFERENSI
https://fajrina.wordpress.com/teori-perdagangan-internasional/
http://sumilpe.blogspot.co.id/2013/11/perkembangan-eksport-dan-import-di.html
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&ved=0CCgQFjAB&url=http%3A%2F%2Fejournal.undip.ac.id%2Findex.php%2Fjgti%2Farticle%2Fview%2F4087%2F3737&ei=NetbVNaVFIykuQSXsoLwAQ&usg=AFQjCNHGdl1VqAOWlZUEI5XnR00XPvfJdg&sig2=LdoOY4JevaGZ43op7olLfg&bvm=bv.78677474,d.c2Ehttp://www.kemenperin.go.id/statistik/peran.php?ekspor=1

Komentar
Posting Komentar