Belajar Bisnis Fashion yuk !


Kelompok 5:
1. Delya Ari Fauziya (27215818)
2. Denny Wanandy (21215693)
3. Dewi Listyowati (21215784)
4. Emilia Rosana Safitri (22215208)
5. Eri Maulana Firmansyah (22215232)
6. Febtama Dwika Aziari (22215606)
7. Feren Agnesia Putri (22215627)



Pendahuluan

I. Latar Belakang
Pakaian pada wilayah pembentukan ideologi personal atau komunitas, merupakan dimensi bergaya. Tatanan dan tuntunan bergaya inilah yang sering ditafsirkan sebagai usaha mengekspresikan keinginan dan pengakuan identitas pada konteks kehidupan sosial. Ekpresi yang tidak terkendali dalam bergaya (membuat dan memakai gaya tertentu), mendorong pada beberapa personal untuk memberikan batasan-batasan pakaian yang “nyaman” atau tidak, “layak” atau tidak, untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai, minimal komunitas sosialnya. Batasan gaya berpakaian inilah, yang sering kali dilihat sebagai “ketidakwajaran” untuk diterima dan ditempatkan pada kultur tertentu. Pertentangan dan pertautan yang dihubungkan dengan nilai agama, moral, dan etika dalam menyikapi produk seni (pakaian) muncul secara beragam. Pada sisi lain, terjadinya distorsi makna pakaian sebagai kebutuhan pokok, menjadi pakaian sebagai kebutuhan mewah untuk bergaya. Tentu, tidak dengan segera pakaian dipermasalahkan sebagai sumber kerumitan tersebut, ada peran media (iklan), industri (pencipta), komunitas (pemakai dan pencipta), serta lembaga sosial (pemerintah dan alat-alatnya) yang membentuk perputaran pakaian menjadi produk yang “mengatur” penggunanya.

Pada dimensi lain, konteks “nyaman” memiliki batasan berbeda bagi setiap personal. Konteks kenyamanan inilah yang membuat terjadinya perdebatan dan silang pendapat, jika dilihat dari sudut pandang keilmuan yang berbeda. Landasan berpikir berbeda yang menentukan norma dan kaidah berpakaian menjadi tidak sama, berlaku pada personal, komunitas, mau pun pihak industri. Gaya berpakaian merupakan milik “personal” yang saling berkorelasi pada lingkungan politik, sosial, dan kultural. Beragam ideologi terbungkus oleh tema atau isu, melekat pada sehelai pakaian, bertujuan personal, komunitas, dan industri. Konteks nyaman memberikan label dan identitas seseorang pada tatanan sosial, sehingga pengidentifikasian dipandang sebagai upaya “melegalkan” kesenangan bergaya. Atas dasar kesenangan ini juga, memunculkan persoalan berkaitan simbol pembebasan diri dalam bergaya melalui pakaian (produk seni).

II. Definisi

Arti kata dari fashion itu sendiri memliki banyak sisi. Menurut Troxell dan Stone dalam bukunya Fashion Merchandising, fashion didefinisikan sebagai gaya yang diterima dan di gunakan oleh mayoritas anggota kelompok dalam satu waktu tertentu. Dari definisi tersebut daapat terlihat bahwa fashion erat kaitannya dengan gaya yang di gemari, kepribadian seseorang, dan rentang waktu. Maka bisa dimengerti mengapa sebuah gaya yang di gemari bulan ini bissa dikatakan ketinggalan jaman beberapa bulan kemudian.

Menurut solomon dalam bukunya ‘consumer Behaviour’ European perspective fashion adalah proses penyebaran sosial (social-diffusion) dimana sebuah gaya baru diadopsi oleh kelompok konsumen. Fashion atau gaya mengacu pada kombinasi beberapa atribut. Dan agar dapat di katakan ‘in fashion’.

Menurut Poppy Dharsono, tokoh fashion Indonesia yang tidak hanya sebagai pengamat tapi juga praktisi, fashion adalah sebuah kecenderungan gaya yang sedang digemari pada saat itu dalam jangka waktu tertentu. Menurut Ellen, fashion adalah bagian gaya hidup yang merupakan pilihan pribadi setiap orang, yang bisa membuat diri mereka merasa lebih baik dan nyaman.

Istilah gaya dan desain perlu di jelasakan agar tidak disamakan dengan fashion. Gaya (style) adalah sebuah karakteristik dalam mempresentsikan sesuatu. Dalam lingkup pakaian, gaya adalah karakteristik penampilan bahan pakaian, kombinasi fitur-fiturnya yang membuatnya berbeda dengan pakaian lain. Contohnya, rok sebagai salah satu gaya berpakaian bagi wanita, pilihan lainnya adalah celana atau leging, sedangkan jas adalah salah satu gaya berpakaian bagi pria, pilihan lainnya bisa menggunakan jaket kulit atau jaket jeans. Gaya suatu saat bisa di terima dan suatu saat bisa pergi, namun gaya yang spesifik akan tetap diingat, entah itu di katakan fashion atau tidak.

Teori

• Perkembangan Fashion Di Indonesia

Dalam sejarah belakangan ini kita mendengar berita tentang fashion yang ada di negara kita. Dunia fashion di Indonesia bisa dikatakan berkembang pesat beberapa dekade terakhir. Hal ini didukung dari berbagai sisi, baik desainer lokal yang semakin potensial, tingkat perekonomian yang membaik, Pihak yang memegang peran penting dalam mempengaruhi fashion di Indonesia adalah APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia), yang beranggotakan perancang dan pengusaha yang bergerak di bidang mode Indonesia. Termasuk juga di dalamnya ada pihak-pihak yang bergerak dalam fashion retail dan ekspor. Mereka memiliki program tahunan yaitu FASHION TENDANCE yang di adakan sejak 1993 sampai sekarang, dimana mereka melakukan fashion show yang menampilkan prediksi trend fashion tahun mendatang dengan maksud memberi arahan komprehensif mengenai konsep rancangan terkini versi APPMI pada masyarakat luas. Mennurut Poppy Dharsono, selaku ketua umum dan pendiri APPMI, trend yang di tampilkan pada acara tersebut merupakan hasil kombinasi dari inspirasi fashion mancanegara terutama Eropa dan karakteristik masyarakat Indonesia. Menurutnya, acuan fashion yang paling di gemari adalah dari benua Eropa, seperti Paris dan Milan, karena desainnya yang sederhana danklasik.

Majunya teknologi dan arus informasi membuat masyarakat Indonesia lebih terbuka pada pengetahuan global. Tidak bisa dipungkiri lagi trend mode di Indonesia banyak dipengaruhi oleh budaya barat. Namun hal ini tidak membuat desainer-desainer Indonesia berkecil hati karena mereka di dukung oleh pers, stylist, retailer, marchandiser, dan fotografer, dimana semuanya bersinergi menyampaikan informasi sesuai bidangnya masing-masing. Walaupun gaya barat mendominasi, namun ada kalanya kerjasama mereka kembali memunculkan gaya khas Indonesia kembali ke permukaan. Informasi yang seimbang antara gaya barat dan lokal membuat konsumen Indonesia cerdas dalam memilih mana yang disukainya dan yang cocok baginya.

Menurut Ellen, jenis fahion yang paling cepat perkembangannya adalah baju, karena baju lebih cepat pergantian modelnya dan baju merupakan item yang paling banyak dibeli oleh masyarakat di bandingkan dengan produk lainnya. Peringkat selanjutnya diikuti oleh tas, dan sepatu. Setiap orang tentunya memiliki pilihan baju lebih banyak di bandingkan tas dan sepatu.Dengan kata lain predikat jual baju lebih tinggi dari pada jual sepatu dan jual tas atau aksesoris lainya.

• Cara memulai bisnis fashion :

1. Niat

Segala sesuatu harus diawali dengan niat karena dengan niat, apa yang kita kerjakan dapat dipermudah dengan baik.

2. Modal

Untuk memulai bisnis fashion, kita harus mempersiapkan modal. Modal itu berbagai macam, sebut saja modal barang, modal akal dan modal nekat.

3. Strategi Penjualan.

Untuk menjalankan bisnis, kita harus tau segala sesuatu yang terjadi pada arus pembelian dan penjualan konsumen, karena apabila kita tau arus pembelian dan penjualan, kita dapat memanfaatkan keuntungan untuk memulai bisnis.contohnya tempat penjualan yg strategis, harga, model, motif, bahan, kerjasama dengan distributor.


Analisis


A. Mengapa kita harus mencoba bisnis fashion??

Karena bisnis fashion dapat berkembang terus menerus mengikuti perkembangan zaman tak pernah pudar. Oleh karena itu pembaruan dalam dunia fashion sangatlah perlu terutama di kalangan kaum wanita yang terus mengikuti trend yang sedang membooming. Tidak hanya model fashion lokal, model barat pun saat ini sudah banyak sekali para pemakainya. Memang sudah menjadi hal yang wajar dikalangan wanita untuk dapat tampil mempesona, apalagi saat ini informasi lebih mudah didapatkan, mereka senantiasa akan terus update tentang masalah fashion yang akan trend nantinya.

Karena itulah bisnis fashion selalu berkembang dan tidak pernah sepi pembeli ataupun para pelaku penjualnya. Sehingga bisa dibayangkan begitu besarnya kebutuhan fashion saat ini. Untuk para penjual/pebisnis ini tentu akan menjadikan suatu ladang usaha yang sangatlah bagus, karena jika permintaan banyak maka peluang mendapatkan keuntungan akan menjadi besar.

B. Bagaimana keuntungan dan kerugian dari berbisnis fashion?

Keuntungan:

1. Menciptakan lapangan kerja yg menguntungkan.

2. Menciptakan mode baru dalam dunia fashion

3. Memudahkan designer menuangkan idenya dalam fashion.

4. Menaikkan pendapatan perkapita Negara.

5. Memperkenalkan karya bangsa Indonesia ke dunia internasional.

Kerugian:

1. Daya beli konsumen tidak dapat diperkirakan.

2. Bahan baku semakin sulit didapat .

3. Kepercayaan konsumen berpengaruh

4. Habisnya lapangan hijau akibat pembangunan

5. Penebangan hutan untuk bahan baku

6. Polusi akibat pengolahan industri.

Referensi

http://serba-serbi-dunia-fashion.weebly.com/perkembangan-dunia-fashion.html

http://didiek-hadi.blogspot.co.id/2009/08/keuntungan-kerugian-bisnis-online.html

http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126658-6027-Pola%20perilaku-Literatur.pdf

Komentar

Postingan Populer